makin banyaknya tempat nongkrong atau tempat dimana sajian utamanya adalah cofee di tambah makin banyaknya produk - produk konsumsi dalam bentuk instant, membuat pola hidup dan tingkat konsumtif si biji hitam ini meningkat, bahkan di beberapa sosial media para pencinta ini kemudian membuat akun hanya untuk menyatukan para pengikut yang mungkin masuk dalam golangan isme (berlebihan), bahkan seorang sepupu dengan seragam sekolah masih berwarna merah-putih menulis ID nya si smartphone sebagai si penikmat kopi.
sayapun sama, menyukainya dibeberapa waktu luang atau kadang menjadi pelengkap untuk teman berbagi cerita di waktu senggang, dan terkadang menikmatinya diselingi dengan nikotin di saat muak memuncak, maaf klo ternyata itu membuat nilaiku sedikit berkurang, tapi mungkin itu hanya salah satu kebiasaan buruk masa remaja yang kemudian sulit untuk di abaikan, walau terkadang itu menjadi hal yang membuatnya keliatan munafik kerna saya hanya berani melakukannya di waktu sendiri atau kerkadang melakukannya diam-diam dipojokan.
kembali ke soal cofee,
mungkin kata yang cocok untuk saya hanya penikmat, kerna saya sama sekali tidak tau jenis dan macam-macamnya, yang saya tahu hanya beberapa yang itupun saya ketahui dari perbincangan beberapa teman yang memang betul- betul jatuh cinta pada sajian ini, dan kalau sebagian teman beranggapan klo kita dapat menilai teman hidup dari kegemeran dan kesamaan kita tentang hal yang sama, mungkin saya tidak berada di pihak itu, kerna hidup bukan hanya sekedar menikmati cofee bersama, atau kegemaran musik yang sama, tontonan film yang sama, serta jenis bacaan yang juga sama bukan berarti kita juga memiliki pola pikir dan sudut pandang yang sama untuk beberapa hal, walau memang dengan memiliki beberapa kesamaan kita lebih memiliki waktu yang panjang untuk bercerita tentang hal yang sama............
Tidak ada komentar:
Posting Komentar