saya tidak tau dengan pasti sejak kapan saya tidak suka matematika, yang saya tau pada saat di sekolah dasar saya sempat ikut lomba dan menjadi kandidat yang membawahi matematika kerna saat itu saya betul-betul suka dan menganggap menyelesaikan soal cerita berbau matematika adalah suatu tantangan dan menyelesaikannya memiliki kepuasaan tersendiri
masa smp saya lupa soal cerita tentang matematika jadi tidak ada yang dapat saya tulis, SMA mungkin merupakan cikal bakal di mana saya betul-betul tidak memiliki ketertatrikan di bidang ilmu ini, saya ingat tentang sosok guru killer yang akan mengurung kami di dalam kelas sampai kami tahu jawaban dari pertanyaannya walaupun jam istirahat hampir selesai, dan salah satu kakak memberikan saya hadiah kalkulator seri terbaru merek casio yang saat itu jadi barang canggih pada masanya dan membuat saya tidak harus berpikir lama untuk menyelesaikan tugas rumah, atau sekedar menjumlah barang dagangan saat dapat jatah jaga toko.
masa penjurusan dan semester awal kuliah buat saya makin jauh, krna saya justru memilih kelas bahasa pd saat kelas tiga dan mengambil sastra yang tidak ada perhitungannya sama sekali dalam daftar kurikulum, di salah satu kampus walau tidak berakhir mulus, kerna saya lebih memilih melakukan liburan panjang di saat kampus justru mengadakan ujian.
Dan sekarang saya terlambat untuk belajar, saat di otak saya mulai kelebihan kapasitas dengan banyaknya memori yang kadang tidak penting tp justru tersimpan di dalam kepala, dan ternyata hampir semuanya soal hitung dan mengitung, dari umur, masa produkitif tabungan bahkan tidurpun pake hitungan.
jangan salahkan saya, ketika saya tidak dapat menyelesaikan rentetan tugas yang disitu ada begitu banyak angka yang siap untuk di jumlahkan sedangkan saya tidak di berikan fasilitas kalkulator, bahkan kebingungan saya semakin besar saat tau klo penelitian akhir saya yg awalnya menggunakan metode kualitatif harus berubah menjadi kuantitaf yg mengunakan rumusan statistik untuk hasil akhirnya sehingga menjadi akurat dan bahkan hasil wawancaranya pun harus berubah dan di bahasakan dengan bentuk hitungan
saya mungkin hanya satu dari beberapa orang yang juga salah hitung, soal bagaimana caranya menyelesaikan masalah dan pekerjaan tidak dalam hitungan( mulai di baca strategi), tapi lebih kepada berpikir diam dan menunngu sampai waktunya memang tiba, dan selalu menganggap klo kegagalan atau kesalahan adalah sukses yang tertunda( mencari pembenaran) padahal itulah efek dari "kebodohan yang terpelihara" mengutip bahasa muh asaad dalam salah satu bukunya. #NFQ..........
Tidak ada komentar:
Posting Komentar