Kamis, 07 Juli 2011

tak berlawan

berkali-kali kau menghujat, mencari letak lemahku,

tak usah bebankan otakmu, untuk hal yang yang sangat jelas kau lihat

karna halaman-halaman ini begitu jelas

aku tak ingin menutup ataupun membuka,

teriakanmu makin lantang, ingin agar mereka tau

bahwa kau lah pemenangnya, kaulah yang tau, dan kau lah yeng peduli

tentang semua hal yang akan ada dan sudah ada jauh sebelum

aku kamu dan mereka hadir,

ku biarkan dirimu dengan ketidak inginan ku agar kau mengerti

klo semunya tak harus di ketahui tak semuanya harus di pahami

dan ku pinta padamu untuk tidak membuat hati dan otakmu memikul

beban yang tak harus di tanggung.

kerna masa akan selalu hadir, dan berkata hal yang sesunggunya

tanpa kata ataupun aksara..

beda

memang benar lebih muda mendapatkan dari pada mempertahankan, itu yang kurasa saat ini, entah sudut pandang yang mulai berubah ataukah kerna memang suda tak sama rasa, toh apa bedanya, ' dulu' ada begitu banyak kata untuk sepakat, tanpa harus di bicarakan semuanya berjalan sama rata dan sama rasa, kekiri bersama kekanan pun sama, tapi bukankah manusia itu berubah, bukan kerna ingin lepas hanya butuh waktu untuk merehat semua yang telah lewat, usia yang mulai mapan atau kah memang tak seindah usia belia yang semuanya halal yang pastinya mulai kurasa klo kita berlahan mel ihat segalanya mulai berbeda, mungkin nanti ada masa dimana aku akan memintamu dan akan dengan rela meminta agar melihat semaunya seperti pandangan mu agar kita aku tak harus menaggung bebanku sendiri , tapi untuk saat ini biarkan aku memulai cerita dengan hal yang mugkin perna menjadi hujatan kita bersama tentang para pendahulu yang juga mulai berubah.........

bunda

Kebiasaan baru disela waktu, menjelang waktu tutup dan para tamu satu persatu mulai menghilang, tak lagi Ngeteh di warung padang, kerna bunda menyajikan menu komplit ala empat sehat lima sempurna,
Menikmati teh disore hari dan sekedar berbagi cerita ala sarawangi, dengannya wanita paru baya dengan sedikit lemak menyangga tulang, awalnya biasa kemudian ia sesenggukan, terkenang sang anak yang telah pergi lebih dulu dengan umur yang tak jauh dariku, dia bercerita tentang bahagianya ia dulu, saat sang anak diam-diam memberikan bingkisan dan menyisipkan amplop disakunya , diam katanya, anaknya pendiam, sangat jarang berkomentar dan selalu memberikan hal-hal yang tak terduga tampa mau di ketahui, tak ada bertanda tentang sakitnya atau memang dia tak ingin berkomentar tentang itu, karna tak ingin menambah beban bunda yang berat , kerna peran ibu tunggal menyadarkannya tentang apa yang telah dilalui, dia pergi dengan kanker hati yang berlahan menggerogoti tubuhnya, dengan bahasa sederhana dia terus bercerita dan tangisnya tak bisa lagi terbendung, tak bisa berkomentar hanya usapan tangan di pundaknya berharap itu bisa melegakannya,................
Huft....hanya bis a menghela nafas dalam , teringat bundaku yang jauh disana, tak bisanya diriku sepertinya bahkan pintanya pun tak bisa menghentikan kesenanganku, tak ada kejutan untuknya, bahkan status orang tua tunggal jauh lebih dulu menjadi gelarnya, dan tanpa uang pensiunan, berjuang sendiri dan membuat kami mendapat predikat yang mungkin tak bisa kami pertanggung jawabkan, dan masih tetap bisa seperti yang lain tanpa kekurangan apapun, mungkin tuhan memberiku tiket perjalanan lebih panjang darinya, kerna aku belum bisa melakukan hal yang sama.....
Bunda....
Apapun diriku tak akan mengurangi rasa hormatku padamu, dan pintaku padaNYA agar memberiku waktu agar bisa membuatmu bahagia....AMIN.................