akhir acara, di tandai dengan tanda tangan oleh semua perkerja, dan signer di awali oleh bapak pimpinan RH, dan dikuti oleh para pekerja lainnya satu persatu, FPK usai dilanjutkan oleh tugas-tugas yang menunggu di hari senin........
a
Senin, 26 November 2012
note to RH( ROLAND HUTAGALUNG)
hampir dua tahun, beliu berada di kota kecil ini, banyak cerita dan tentunya kram di pagi hari di kala brifing, banyak cerita dan juga petuah-petuah yang terlontar dari mulutnya.
entah tepatnya kapan, kerna saya payah dalam mengingat tanggal dan hari yg telah lewat, sosoknya tampan tinggi dengan badan yang tegap, walau sedikit ada buncitan di perut, angkuh, itulah hal yang pertama terlihat darinya, sosok pria mapan tinggal dan besar di kota dan terbiasa dengan lingkungan yang cukup mungkin salah satu pendorong dari, penglihatan awalnya, ketika kemudian dia harus mengabdikan diri di suatu kota kecil di sulawesi,
tak kenal maka tak sayang sekali lagi saya harus membenarkan pameo itu, setelah hampr dua tahun beliu menjadi orang yang berada di depan kami, dia sosok yang cerdas dengan banyak cerita-cerita dan petuah2 yang dikemas tidak dalam bentuk pribahasa, dan sosok yang kadang menghujat dengan bahasa yang humoris, sudah waktunya dia membuka jalan baru dan memberikan kesempatan kepada yang lain untuk mengenalnya, dan begitupun kami, akan tetap berada disini dan membuat jalan kami lebih baik, untuk mungin di lain kesempatan untuk dia mampir,
semoga sukses tak hanya untuk bapak tapi juga buat kami disini, ...............
Selasa, 20 November 2012
ABOUT FPK
Setiap tahun, akan ada evaluasi dan usaha memperbaiki struktur suatu organisasi, forum ini di seling denga penandatanganan yang di laksanakan oleh setiap pekerja sebagai wujud tanggaung jawab atas komitmen yang akan datang, good wiil, akan lebih baik untuk hari besoknya, n tetap solid.
Selasa, 13 November 2012
selasa
selasa, 13 november 2012
ada yang istimewah pada hari kedua dari susunan hari kerja setelah senin, setidak ini jadi hari dimana nasabah tidak lagi sepadat hari senin, hari dimana dua puluh delapan tahun lalu tepatnya di tanggal 24 kaki saya mulai berpijak, hehehehehe sedikit mengingatkan kejadian silam, ada pameo di daerah bugis yang menyatakan klo konon katanya hari selasa itu hari salah, sesuai dengan namanya yaitu selasa yang berarti salah( sisasla) dalam bahasa bugis, hal ini yang membuat pada hari sangat jarang bagi mereka untuk berkegiatan, tidak melakukan hajatan, tidak melakukan sesuatu yang berarti sebuah awalan, dan itupun berlaku untuk menabung, ..., makanya pada hari ini saya bisa santai sejenak sambil, mulai menulis kembali mumpung bisa online
Sabtu, 11 Februari 2012
e-KTP
saat ini ada satu pertanyaan yang membuat saya sedikit sulit untuk menjawabnya, saat mereka bertanya, saya orang mana???????
hmmm, sepuluh tahun lalu saat pertanyaan ini muncul tanpa pikir panjang saya akan berkata, saya tinggal di sekayu, desa kecil yang sejuk dengan orang-orang dengan tingkat kekeluargaan yang sangat baik, dirumah dimana saya tumbuh dan sesekali berteriak hanya untuk sekedar didengarkan, walaupun itu salah.
lima tahun lalu, saat pertanyaan ini muncul lagi, saat saya bertemu dengan orang-orang, maka saya pun akan berkata saya tinggal dimakasaar, sebuah kota provinsi dengan penduduk padat dan dengan teman-teman dengan latar belakang keluarga yang berbeda-beda, dan jalan yang berlahan-lahan mulai mengalami kemacetan dengan gedung-gedung yang mulai menjulang,
dua tahun lalu, saat saya, kembali di beri kesempatan untuk menikmati tempat lain dengan kota kecil yang sejuk dan indah, sama sekali bukan, masalah kerna dengan mudah saya akan dengan mudah terdata di tempat ini sebagai penduduk asli,
memiliki dua tempat tinggal atau lebih dan terdata di ketiga tempat dalam kurun waktu bersamaan bukan suatu masalah, melainkan memeberikan keleluasaan saat penat menghampiri, dan menggunakan kesempatan di dua tiga tempat sekaligus,dan memiliki tujuan saat orangorang lokal, binggung mencari liburan hemat, kerna saya memliki alternatif lain untuk libur, yaitu pulang.....,
saat, pemerintah mulai memberlakukan identitas tunggal, dan mulai mendata satu persatu masyarakat, ini yang akhirnya membuat binggung, jujur saat ini saya tidak tau saya warga mana, kerna sepuluh tahun lalu saya memiliki area pribadi di rumah kecil itu yang disebut kamar, yang saat pulang, sudah menjadi hak paten untuk sepupu, dan saat saya pulang orang-orang akan berkata, tamu dari mana??? dan bahkan anak kecil yang kusebut ponakan yang selalu menunjukan kelima jarinya dan berkata saya sudah besar umur saya sekarang empat tahun, meyuruh saya pulang saat dia marah..
dan saat lima tahun lalu, saat saya membeli barang via toko online, dengan benar saya akan menulis alamat yang pasti, dan akan sampai tepat waktu, tanpa harus membuat binggung jasa pengiriman, kerna hanya menyebutkan nama dan alamat jelas,barangnya akan tiba di tangan yang tepat, dan sekarang saat pendata itu datang tepat saat sms dari pemilik rumah mengirimkan pesan singkat via HP, klo kontrakannya akan berakhir, dan tempat saya bekerja belum bisa memberi keputusan soal status saya, saya pun kebingunggan,...
bukan kerna saya tidak suka, atau apapun kata yang tepat soal kebijakan ini, saya hanya mulai sadar klo tempat itu hal yang penting, klo dulunya ini sama sekali tak perna terpikirkan akan jadi hal yang membinggungkan, atau akan menjadi hal yang harus dipikirkan, kerna terkadang surat domisili membuat kita memiliki beberapa kesempatan, untuk hal-hal besar yang sama sekali tak terduga, contoh kecilnya, saat saya memutuskan menyelesaikan kuliah, maka dengan mudah saya mendapat bantuan financial dari pemerintahan setempat kerna saya warga lokal, dan terkadang pemerintah daerah lebih mengutamakan penduduknya saat ada proyek atau pekerjaan-pekerjaan hanya dengan menunjukkan tanda pengenal....
hmmm, sepuluh tahun lalu saat pertanyaan ini muncul tanpa pikir panjang saya akan berkata, saya tinggal di sekayu, desa kecil yang sejuk dengan orang-orang dengan tingkat kekeluargaan yang sangat baik, dirumah dimana saya tumbuh dan sesekali berteriak hanya untuk sekedar didengarkan, walaupun itu salah.
lima tahun lalu, saat pertanyaan ini muncul lagi, saat saya bertemu dengan orang-orang, maka saya pun akan berkata saya tinggal dimakasaar, sebuah kota provinsi dengan penduduk padat dan dengan teman-teman dengan latar belakang keluarga yang berbeda-beda, dan jalan yang berlahan-lahan mulai mengalami kemacetan dengan gedung-gedung yang mulai menjulang,
dua tahun lalu, saat saya, kembali di beri kesempatan untuk menikmati tempat lain dengan kota kecil yang sejuk dan indah, sama sekali bukan, masalah kerna dengan mudah saya akan dengan mudah terdata di tempat ini sebagai penduduk asli,
memiliki dua tempat tinggal atau lebih dan terdata di ketiga tempat dalam kurun waktu bersamaan bukan suatu masalah, melainkan memeberikan keleluasaan saat penat menghampiri, dan menggunakan kesempatan di dua tiga tempat sekaligus,dan memiliki tujuan saat orangorang lokal, binggung mencari liburan hemat, kerna saya memliki alternatif lain untuk libur, yaitu pulang.....,
saat, pemerintah mulai memberlakukan identitas tunggal, dan mulai mendata satu persatu masyarakat, ini yang akhirnya membuat binggung, jujur saat ini saya tidak tau saya warga mana, kerna sepuluh tahun lalu saya memiliki area pribadi di rumah kecil itu yang disebut kamar, yang saat pulang, sudah menjadi hak paten untuk sepupu, dan saat saya pulang orang-orang akan berkata, tamu dari mana??? dan bahkan anak kecil yang kusebut ponakan yang selalu menunjukan kelima jarinya dan berkata saya sudah besar umur saya sekarang empat tahun, meyuruh saya pulang saat dia marah..
dan saat lima tahun lalu, saat saya membeli barang via toko online, dengan benar saya akan menulis alamat yang pasti, dan akan sampai tepat waktu, tanpa harus membuat binggung jasa pengiriman, kerna hanya menyebutkan nama dan alamat jelas,barangnya akan tiba di tangan yang tepat, dan sekarang saat pendata itu datang tepat saat sms dari pemilik rumah mengirimkan pesan singkat via HP, klo kontrakannya akan berakhir, dan tempat saya bekerja belum bisa memberi keputusan soal status saya, saya pun kebingunggan,...
bukan kerna saya tidak suka, atau apapun kata yang tepat soal kebijakan ini, saya hanya mulai sadar klo tempat itu hal yang penting, klo dulunya ini sama sekali tak perna terpikirkan akan jadi hal yang membinggungkan, atau akan menjadi hal yang harus dipikirkan, kerna terkadang surat domisili membuat kita memiliki beberapa kesempatan, untuk hal-hal besar yang sama sekali tak terduga, contoh kecilnya, saat saya memutuskan menyelesaikan kuliah, maka dengan mudah saya mendapat bantuan financial dari pemerintahan setempat kerna saya warga lokal, dan terkadang pemerintah daerah lebih mengutamakan penduduknya saat ada proyek atau pekerjaan-pekerjaan hanya dengan menunjukkan tanda pengenal....
Rabu, 08 Februari 2012
strata
Ini bukan cerita soal strata pendidikan yang kujalani yang mulai bikin pusing, walaupun mungkin ada bahasan soal itu nantinya,
Menikah adalah hal yang di inginkan oleh hampir semua orang tak terkecuali ,lebih-lebih saat kita bisa bersama dengan orang yang kita kenal dan orang yang telah menjadi bagian dari kehidupan kita, untuk beberapa waktu. Tapi ini bukan tentang saya,
Lahir dalam keluarga miskin itu takdir, dan mati dalam keadaan miskin katanya, itu pilihan, saat kita dilahirkan dalam keluarga dengan keadaan mampu dan dengan garis keturunan nigrat itu ada lah takdir dan berkah yang tidak bisa kita tolak, terbiasa dengan kehidupan cukup dan pandangan lingukangan yang menghargai yang entah asli atau polesan adalah hal yang biasa, tapi saat beberapa tahun kelak saat ketentuan Tuhan yang lain diturunkan, yaitu jodoh. Dan ternyata pasangan yang digariskan bukan dari kalang yang membuatmu besar tapi menawarkan cinta yang tulus, apa itu kemudian membuatmu, menjadi sulit, padahal di setiap doa selalu untuk dimudahkan.
Mungkin ini bukan soal diri sendiri, kerna ada mereka yang membuat kita menjadi ada, mereka disebut orang tua dan keluarga, dan sudut pandang mereka yang lebih dulu ada dan menjalaninya lebih dulu, membuat mereka membuat standar untuk hidup kita juga sama, walau mungkin ada beberapa yang enggan untuk mereka ceritakan, soal kehidupan mereka kemarin, yang tak mungkin selalu mulus dan mungkin tidak sebaik sekarang. Atau mungkin juga kerna mereka sama sekali belum merasakan apa yang sekarang kamu rasakan, atau mungkin sudut pandang mereka dan soal upaya mereka untuk membuat keturunan berikutnya bisa mendapakan hal yang lebih baik, seperti upaya mereka merencanakan masa depan anak-anaknya jauh sebelum mereka tau kalau hidup itu tidak mudah, semudah kita berbicara.
Dan sebagian yang masih memegang teguh masalah adat dan tradisi keluarga, yang justru tanpa sadar membuat mereka melalaikan hal dasar yang membuat adat itu ada dan justru membuat garis keturunan mereka menjadi kehilang kesempatan untuk membuat suatu keluarga yang sakianh mawaddah dan wa rahmah, bukannya ingin menggurui atau memberi ide untuk mereka yang telah sukses lebih dulu, ini hanya sekedar bahasa yang tidak sempat terucap lewat lisan. Dan usaha untuk sekedar pendapat untuk jalan mereka lebih mudah dan lebih sabar, dan setidaknya ini bisa memberi sedikit semangat untuk lebih berusaha, dan semoga semuanya di perlancar.AMIN.....
Menikah adalah hal yang di inginkan oleh hampir semua orang tak terkecuali ,lebih-lebih saat kita bisa bersama dengan orang yang kita kenal dan orang yang telah menjadi bagian dari kehidupan kita, untuk beberapa waktu. Tapi ini bukan tentang saya,
Lahir dalam keluarga miskin itu takdir, dan mati dalam keadaan miskin katanya, itu pilihan, saat kita dilahirkan dalam keluarga dengan keadaan mampu dan dengan garis keturunan nigrat itu ada lah takdir dan berkah yang tidak bisa kita tolak, terbiasa dengan kehidupan cukup dan pandangan lingukangan yang menghargai yang entah asli atau polesan adalah hal yang biasa, tapi saat beberapa tahun kelak saat ketentuan Tuhan yang lain diturunkan, yaitu jodoh. Dan ternyata pasangan yang digariskan bukan dari kalang yang membuatmu besar tapi menawarkan cinta yang tulus, apa itu kemudian membuatmu, menjadi sulit, padahal di setiap doa selalu untuk dimudahkan.
Mungkin ini bukan soal diri sendiri, kerna ada mereka yang membuat kita menjadi ada, mereka disebut orang tua dan keluarga, dan sudut pandang mereka yang lebih dulu ada dan menjalaninya lebih dulu, membuat mereka membuat standar untuk hidup kita juga sama, walau mungkin ada beberapa yang enggan untuk mereka ceritakan, soal kehidupan mereka kemarin, yang tak mungkin selalu mulus dan mungkin tidak sebaik sekarang. Atau mungkin juga kerna mereka sama sekali belum merasakan apa yang sekarang kamu rasakan, atau mungkin sudut pandang mereka dan soal upaya mereka untuk membuat keturunan berikutnya bisa mendapakan hal yang lebih baik, seperti upaya mereka merencanakan masa depan anak-anaknya jauh sebelum mereka tau kalau hidup itu tidak mudah, semudah kita berbicara.
Dan sebagian yang masih memegang teguh masalah adat dan tradisi keluarga, yang justru tanpa sadar membuat mereka melalaikan hal dasar yang membuat adat itu ada dan justru membuat garis keturunan mereka menjadi kehilang kesempatan untuk membuat suatu keluarga yang sakianh mawaddah dan wa rahmah, bukannya ingin menggurui atau memberi ide untuk mereka yang telah sukses lebih dulu, ini hanya sekedar bahasa yang tidak sempat terucap lewat lisan. Dan usaha untuk sekedar pendapat untuk jalan mereka lebih mudah dan lebih sabar, dan setidaknya ini bisa memberi sedikit semangat untuk lebih berusaha, dan semoga semuanya di perlancar.AMIN.....
putus
Mu ngkin itu jalan terakhir dari hasil diskusi dan perdebatan yang panjang, atau mungkin juga awal dari usaha untuk tidak membuat suatu hubungan betul-betul berakhir, bukannya ingin jauh tapi dekat kadang membuat bahasa membuat gema dan sampainya tak lagi jelas, klo dulu mungkin tanpa katapun kita bisa mengartikan bahasa satu dengan yang lainnya, tapi itu mungkin dulu,
Amarah yang tak berjeda, membuat kepakaan antara kita mulai terkikis, sadar atau tidak itu nyata, membuat jarak pun sulit, kerna rasa tarasing dan merasa tak dihargai jauh lebih dominan, dan kembali menjadi perdebatan walau kadang tak terucap lewat lisan, tapi menghasilkan kekakuan yang panjang. Kita pantas berbahagia walau mungkin tidak harus selalu bersama, kerna menahan amarah terlalu sering juga tidak baik untuk kesehatan jiwa.
Rasa sendiri pasti akan datang, tapi kemudian mencari akan menjadi lebih baik, ketimbang harus merasa sendiri sementara disekeliling kita sangat gaduh, dan kitapun buta kerna terlalu berpikir tentang kemarin dan kemarin atau mungkin dulu kita terlalu bahagia dan sekarang waktunya untuk itu, kerna memang hidup seperti itu, dan kerna hidup memang seperti itu, maka ada baiknya kita bersama untuk tidak membuat ini menjadi lebih sulit,
Sadar atau tidak kita sudah terikat, entah hubungan itu apa namanya, kerna memang kita sudah dipertemukan dari awal olehNYa dan tak mungkin itu tanpa rencana, kerna sesungguh tak’kan perna ada kebetulan untuk semua hal. Dan semoga kelak kita bisa saling menghargai satu dengan yang lainya saat kita masih berjodoh, walau tanpa hubungan apa-apa. AMIN
Amarah yang tak berjeda, membuat kepakaan antara kita mulai terkikis, sadar atau tidak itu nyata, membuat jarak pun sulit, kerna rasa tarasing dan merasa tak dihargai jauh lebih dominan, dan kembali menjadi perdebatan walau kadang tak terucap lewat lisan, tapi menghasilkan kekakuan yang panjang. Kita pantas berbahagia walau mungkin tidak harus selalu bersama, kerna menahan amarah terlalu sering juga tidak baik untuk kesehatan jiwa.
Rasa sendiri pasti akan datang, tapi kemudian mencari akan menjadi lebih baik, ketimbang harus merasa sendiri sementara disekeliling kita sangat gaduh, dan kitapun buta kerna terlalu berpikir tentang kemarin dan kemarin atau mungkin dulu kita terlalu bahagia dan sekarang waktunya untuk itu, kerna memang hidup seperti itu, dan kerna hidup memang seperti itu, maka ada baiknya kita bersama untuk tidak membuat ini menjadi lebih sulit,
Sadar atau tidak kita sudah terikat, entah hubungan itu apa namanya, kerna memang kita sudah dipertemukan dari awal olehNYa dan tak mungkin itu tanpa rencana, kerna sesungguh tak’kan perna ada kebetulan untuk semua hal. Dan semoga kelak kita bisa saling menghargai satu dengan yang lainya saat kita masih berjodoh, walau tanpa hubungan apa-apa. AMIN
resolusi
Saat, hampir sebagian orang mulai mendapatkan hasil dari hasil pikiran mereka dimasa lalu, saya masih sama, pribadi yang sama, menjalani rutinitas yang sama, sendiri dan tanpa rencana yang pasti, pekerjaan yang rutin dan kuliah yang entah kelarnya kapan hanya bagian yang ingin kujani dulunya, kerna vakum membuat isi kepalaku betul-betul tidak berfungsi dengan baik, hasilnya jelas kerna itu berakhir dengan tidak maksimal, rasa cukup terlalu cepat menghinggapi tapi malah menjadi bumerang saat ini kerna, itu membuatku selalu berlari di area yang sama,
Kalau melihat mereka rasanya ingin sama, berjuang dan bermimpi yang tinggi, dan mungkin kelak bisa mencapai hasil yang maksimal, walau kedengarannya terlambat, tapi setidak saya pun mulai berpikir tentang besok yang lebih baik, entah itu dalam bentuk pencapaian yang seperti apa, tapi akan mulai kuusahakan untuk menjalani lebih sungguh-sungguh apapun itu,
Kalau dulunya hanya ingin berpikir hidup secarah sederhana, kerna kebahagian itu soal rasa bukan angka, bukan berarti itu bergeser, kerna yang sederhana ternyata itu hidup, dan disini yang ingin ku capai bukan soal mengubah gaya hidup menjadi tidak sederhana dan menjadi pribadi yang ambisius, hanya ingin mengusahakan, soal besok dan kehidupan setelah besok, saat semua berakhir, ada yang bisa kubawah dan ada yang bisa kupertanggung jawabkan di depan pencipta ku kelak.
Harapan ku untuk saat ini ada jalan di sela usaha yang maksimal, dan niat awal ini kelak tak akan kulupa seiring perubahan yang akan terjadi nantinya, kerna apapun itu segalanya pasti akan berubah entah dalam hal apa atau bentuk yang bagaimana, dan kelak keluarga tetap menjadi hal yang utama dan bisa lebih bermanfaat bagi orang banya dalam hal kebaikan. AMIN...............
Kalau melihat mereka rasanya ingin sama, berjuang dan bermimpi yang tinggi, dan mungkin kelak bisa mencapai hasil yang maksimal, walau kedengarannya terlambat, tapi setidak saya pun mulai berpikir tentang besok yang lebih baik, entah itu dalam bentuk pencapaian yang seperti apa, tapi akan mulai kuusahakan untuk menjalani lebih sungguh-sungguh apapun itu,
Kalau dulunya hanya ingin berpikir hidup secarah sederhana, kerna kebahagian itu soal rasa bukan angka, bukan berarti itu bergeser, kerna yang sederhana ternyata itu hidup, dan disini yang ingin ku capai bukan soal mengubah gaya hidup menjadi tidak sederhana dan menjadi pribadi yang ambisius, hanya ingin mengusahakan, soal besok dan kehidupan setelah besok, saat semua berakhir, ada yang bisa kubawah dan ada yang bisa kupertanggung jawabkan di depan pencipta ku kelak.
Harapan ku untuk saat ini ada jalan di sela usaha yang maksimal, dan niat awal ini kelak tak akan kulupa seiring perubahan yang akan terjadi nantinya, kerna apapun itu segalanya pasti akan berubah entah dalam hal apa atau bentuk yang bagaimana, dan kelak keluarga tetap menjadi hal yang utama dan bisa lebih bermanfaat bagi orang banya dalam hal kebaikan. AMIN...............
Senin, 30 Januari 2012
MyJobb
Tidak terasa hampir tiga tahun saya berada di tempat ini, dengan pekerjaan yang kupikir dulu tidak akan lama untuk kujalani , dengan rumah dengan kota yang indah, tidak lama lagi lulus, klo di hitung dengan waktu sekolah. Beberapa teman yang peduli mulai memberikan pemikiran soal masa depan, dengan kurun waktu yang lumayan dengan status OS alias kontrak dengan bantuan vendor, dan umur yang semakin bertambah membuat mereka mulai sangksi dengan statusku, dengan pengalaman kerja yang demikian tidak sulit untuk mencari kerja, itu menurut mereka, dan kadang mulai terpikirkan, entah kenapa saya mulai jatuh cinta, dengan ini, dengan tempat ini dan dengan orang2 yang berada disekitarku, kupikir dengan status BUMN dengan laba tertinggi sama sekali tidak membuat orang2 yang hidup darinya tidak menjadi congkak, kulihat mereka cerdas, sederhana dan bersahaja. Walau kadang melelahkan dan harus menghela napas dalam saat para pegawai PT, menerima insentif dan bonus, tapi mereka juga perna mengalami masa dimana mereka merasa hal yang sama, dan dengan pekerjaan yang jauh lebih sulit dibanding sekarang yang di mudahkan dengan teknologi yang semakin maju.
Dulunya, ini hanya salah satu bentuk transisi, setidaknya saya tidak harus menganggur sampai saat saya betul2 punya kesempatan untuk melakukan apa yang sudah kupikir jauh sebelumya soal besok, ini bukan Saya, yang harus berdandan, memakai high heels, memakai wewangian dan harus tampil menarik, dan tersenyum kepada setiap orang yang datang sambil berusaha menawarkan bantuan. tapi berlahan pemikiran itu mulai rabun, kerna ini kemudian menjadi bagian wajib yang kurindukan di waktu libur.
Entah akhirnya kapan, setidaknya untuk saat ini, hanya ingin menjalani apa yang membuat nyaman, to, klo persepsi kita dan sebagian orang mengukur kesuksesan dari status sosial dan jumlah rupiah di rekening, tapi tidak ada yang berani membuat persepsi klo sukses dan menjadi kaya akan berarti nyaman....
Dulunya, ini hanya salah satu bentuk transisi, setidaknya saya tidak harus menganggur sampai saat saya betul2 punya kesempatan untuk melakukan apa yang sudah kupikir jauh sebelumya soal besok, ini bukan Saya, yang harus berdandan, memakai high heels, memakai wewangian dan harus tampil menarik, dan tersenyum kepada setiap orang yang datang sambil berusaha menawarkan bantuan. tapi berlahan pemikiran itu mulai rabun, kerna ini kemudian menjadi bagian wajib yang kurindukan di waktu libur.
Entah akhirnya kapan, setidaknya untuk saat ini, hanya ingin menjalani apa yang membuat nyaman, to, klo persepsi kita dan sebagian orang mengukur kesuksesan dari status sosial dan jumlah rupiah di rekening, tapi tidak ada yang berani membuat persepsi klo sukses dan menjadi kaya akan berarti nyaman....
Langganan:
Postingan (Atom)